Keterbatasan Fiskal Perlunya Didukung Penguatan Kapasitas
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Sekretaris Daerah (sekda) Berau, Muhammad Said, mengingatkan bahwa penguatan kapasitas ini menjadi krusial di tengah keterbatasan fiskal. Efisiensi anggaran memaksa Pemkab Berau melakukan penyesuaian di berbagai sektor, termasuk memangkas sejumlah program di dinas strategis.
“Banyak kegiatan
harus dikurangi, dari pengadaan hingga perjalanan dinas. Tapi ini agar anggaran
tetap fokus pada kebutuhan prioritas masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya tekanan
efisiensi anggaran dan derasnya pengawasan publik di era digital juga mendorong
Pemkab Berau untuk memperketat perencanaan proyek sejak awal. Salah satunya
melalui penguatan penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yang menjadi fondasi
utama dalam setiap pengadaan.
“Upaya ini sudah kami
wujudkan diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar Unit Kerja
Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) di SM Tower Hotel , baru-baru ini,” tukasnya
lagi.
Kegiatan tersebut
merupakan tindak lanjut rekomendasi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP), sekaligus respons atas tantangan pengadaan yang semakin kompleks.
Disamping perubahan lanskap pengawasan, di era digital, transparansi menjadi
tuntutan yang tidak bisa dihindari.
“Sekarang bukan hanya
lembaga resmi yang mengawasi, masyarakat juga ikut melihat. Maka setiap proses
harus benar-benar akuntabel,” tegasnya.
Melalui Bimtek ini,
Pemkab Berau berharap aparatur tidak hanya memahami aturan terbaru, tetapi juga
mampu menyusun perencanaan yang presisi, adaptif, dan minim risiko sehingga
proyek berjalan tepat sasaran tanpa menyisakan persoalan di kemudian hari.
“Bahwa kesalahan
kecil dalam penyusunan HPS dapat berdampak besar pada pelaksanaan proyek.
Regulasi terus berubah. Kalau kita tidak mengikuti perkembangan, maka
perencanaan bisa meleset jauh dari kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Terbitnya Surat
Edaran Dirjen Bina Konstruksi Nomor 47/SE/DK/2026 sebagai acuan baru dalam
menghitung biaya konstruksi. Menurutnya, aturan ini menuntut aparatur lebih
cermat dan adaptif. Perubahan metode juga menjadi perhatian. Dari sistem lama
BOW, beralih ke SNI, hingga kini menggunakan Analisis Harga Satuan Pekerjaan
(AHSP), menunjukkan bahwa pendekatan perhitungan semakin detail dan berbasis
standar nasional.
Namun, tantangan
nyata muncul ketika standar nasional tidak sepenuhnya selaras dengan kondisi
daerah. Koefisien nasional sering menggunakan asumsi material luar daerah.
Sementara di Berau, dimensinya bisa berbeda. Kalau tidak disesuaikan, pekerjaan
bisa tersendat. (sep/FN/advertorial)